Lowongan Kerja di SD Palm Kids Purwokerto
SD Palm Kids Purwokerto membutuhkan beberapa sumber daya manusia untuk beberapa posisi:
FRONT OFFICER
Eligible Criterias:
- S1 all major, preferably Sarjana Pendidikan (S.Pd).
- Female, maximum age 28 years old.
- Have a strong sense of commitment.
- Have a pleasant personality and appearance.
- Good team player with strong communication skills.
Interested candidate please send your application to the address below, no later than 22nd October 2011.
RELIGION TEACHER
Eligible Criterias
- S1 all major, preferably Sarjana Pendidikan Agama Islam (S.Pd.I).
- Male/Female.
- Possess communicative competence in English.
- Have a strong sense of commitment.
- Have a pleasant personality and appearance.
- Have strong interpersonal skills with a stable emotion.
- Good team player with strong communication skills.
- Willing to work full time.
Interested candidate please send your application in English to the address below, no later than 9th December 2011.
CONSELING TEACHER
Eligible Criterias
- S1 all major, ready for teaching conseling, and all major.
- Male/Female, preferably Male.
- Possess communicative competence in English.
- Have a strong sense of commitment.
- Have a pleasant personality and appearance.
- Have strong interpersonal skills with a stable emotion.
- Good team player with strong communication skills.
- Willing to work full time.
Interested candidate please send your application in english to the address below, no later than 9th December 2011.
PHSYCAL EXERCISE TEACHER
Eligible Criterias
- S1 all major, ready for teaching sport, and all major.
- Male/Female, preferably Male.
- Possess communicative competence in English.
- Have a strong sense of commitment.
- Have a pleasant personality and appearance.
- Have strong interpersonal skills with a stable emotion.
- Good team player with strong communication skills.
- Willing to work full time.
Interested candidate please send your application in english to the address below, no later than 9th December 2011.
HRD SD Palm Kids Purwokerto
Jl. Sarwoendah IV-Pancurawis Purwokerto 53121
Jumat, 09 Desember 2011
Sabtu, 27 Agustus 2011
Belajar Bermakna
1. Apakah belajar bermakana itu?
Inti dari teori Ausubel tentang belajar adalah belajar bermakna ,belajar bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Walaupun kita tidak tahu mekanisme biologi tentang memori atau disimpannya pengetahuan, kita mengetahui bahwa pengetahuan disimpan di daerah – daerah tertentu di otak. Banyak sel otak yang terlibat dalam penyimpanan pengetahuan tersebut. Dalam belajar terjadi perubahan terhadap sel – sel otak tersebut, terutama sel – sel yang menyimpan informasi yang mirip dengan informasi yang dipelajari.
Dasar-dasar bologi belajar bermakna menyangkut perubahan-perubahan dalam jumlah atau ciri-ciri neron yang berpartisipasi dalam belajar bermakna. Peritiwa psikologi tentang belajar bermakna menyangkut asimilasi informasi baru,pada pengetahuan yang telah ada dalam struktur kognitif seseorang. Jadi dalam belajar bermakna informasi baru diasimilasikan pada subsumer-subsumer relatif yang telah ada, hal ini disebut dengan struktur kognitif atau memori jangka pendek.
2. Bagaimana menerapkan teori Ausubel dalam mengajar?
Untuk dapat menerapkan teori ausubel dalam mengajar,kita perlu memperhatikan apa yang dikemukakan oleh ausubel, yaitu; ”Faktor yang paling penting yang mempengaruhi belajar ialah apa yang telah diketahui siswa. Yakinilah ini dan ajarlah ia dmikian.
Pernyataan ausubel itulah yang menjadi inti teori belajarnya. Jadi, agar terjadi belajar bermakana, konsep yang baru atau informasi baru harus dikaitkan dengan konsep – konsep yang telah ada dalam struktur kognitif siswa. Dalam menerpakan teori ini, ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan, yaitu;
- Pengaturan awal (advance organizer)
Pengaturan awal mengarahkan para siswa kemateri yang akan mereka pelajari, dan menolong mereka mengingat kembali informasi yang berhubungan yang dapat digunakan dalam membantu menanamkan pengetahuan baru. Suatu pengaturan awal dapat dianggap semacam pertolongan mental, dan disajikan sebelum materi baru.
- Diferensiasi Progresif
Selama belajar bermakna berlangsung, perlu terjadi pengembangan dan elaborasi konsep – konsep yang tersubsumsi. Menurut Ausubel, pengembangan konsep paling baik, bila unsur – unsur yang paling umum,dari suatu konsep diperkenalkan terlebih dahulu, kemudian diperkenalkan hal- hal yang lebih mendetail dan lebih khusus dari konsep tersebut. Dengan kata lain, model belajar menurut Ausubel pada umumnya berlangsung dari umum ke khusus. Penyusunan konsep seperti ini disebut diferensiasi progresif.
- Penyesuaian Integratif
Menurut Ausubel, bdalam mengajar bukan hanya urutan menurut diferensiasi progresif yang diperhatikan, melainkan juga harus diperhatikan bagaimana konsep – konsep baru dihubungkan dengan konsep – konsep superordinat. Kita harus memperhatikan dengan sungguh – sungguh bagaimana arti – arti baru dibandingkan dan dipertentangkan dengan arti –a rti sebelumnya yang lebih sempit.
Untuk mencapai penyesuaian integratif, materi pelajaran hendaknya disusun sedemikian rupa sehingga kita menggerakkan hierarki – hierarki konseptual selama informasi disajikan. Kita dapat mulai dengan konsep – konsep yang paling umum, tetapi perlu memperhatikan bagaimana terkaitnya konsep – konsep subordinat, dan kemudian bergerak kembali melalui contoh – contoh ke arti baru bagi konsep yang tingkatannya lebih tinggi.
3. Bagaimana menyusun peta konsep?
Peta konsep memegang peran penting dalam belajar bermakna. Karena itu hendaknya setiap siswa pandai dalam menyusun peta konsep untuk membuktikan bahwa telah berlangsung belajar bermakna pada siswa. Dalam mengajarkan pembuatan peta konsep ada beberapa langkah yang harus diikuti, yaitu;
a)Pilih suatu bacaan dari buku pelajaran.
b)Tentukan konsep konsep yang relevan.
4. Apa kegunaan Peta Konsep?
a) Menyelidiki apa yang telah diketahui siswa
Belajar bermakna membutuhkan usaha sungguh-sungguh untuk menghubungkan pengetahuan baru dengan konsep-konsep yang relevan yang telah mereka miliki. Tempat awal konseptual , guru harus mengetahui konsep-konsep yang telah dimiliki siswa pada awal pelajaran
b) Mempelajari cara belajar
Perlu disadari bahwa belaljar bermakna baru terjadi bila pembuatan peta konsep bukan untuk mengetahui keinginan guru tapi timbul dari keinginan siswa. Dimana siswa siswa mempunyai kesiapan dan minat untuk belajar bermakna.
c) Mengungkapkan konsepsi salah
Konsepsi salah timbul karena terdapat kaitan antara konsep-konsep yang mengakibatkan proposisi yang salah.
d) Alat evaluasi
Peta konsep sebagai alat evaluasi,pada tiga gagasan dalam teori kognitif Ausubel
- Struktur kognitif itu benar diatur secara herarki
- Konsep-konsep dalam struktur kognitif mengalami diverensiasi progresif.
- Penyesuaian integratif.
Inti dari teori Ausubel tentang belajar adalah belajar bermakna ,belajar bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Walaupun kita tidak tahu mekanisme biologi tentang memori atau disimpannya pengetahuan, kita mengetahui bahwa pengetahuan disimpan di daerah – daerah tertentu di otak. Banyak sel otak yang terlibat dalam penyimpanan pengetahuan tersebut. Dalam belajar terjadi perubahan terhadap sel – sel otak tersebut, terutama sel – sel yang menyimpan informasi yang mirip dengan informasi yang dipelajari.
Dasar-dasar bologi belajar bermakna menyangkut perubahan-perubahan dalam jumlah atau ciri-ciri neron yang berpartisipasi dalam belajar bermakna. Peritiwa psikologi tentang belajar bermakna menyangkut asimilasi informasi baru,pada pengetahuan yang telah ada dalam struktur kognitif seseorang. Jadi dalam belajar bermakna informasi baru diasimilasikan pada subsumer-subsumer relatif yang telah ada, hal ini disebut dengan struktur kognitif atau memori jangka pendek.
2. Bagaimana menerapkan teori Ausubel dalam mengajar?
Untuk dapat menerapkan teori ausubel dalam mengajar,kita perlu memperhatikan apa yang dikemukakan oleh ausubel, yaitu; ”Faktor yang paling penting yang mempengaruhi belajar ialah apa yang telah diketahui siswa. Yakinilah ini dan ajarlah ia dmikian.
Pernyataan ausubel itulah yang menjadi inti teori belajarnya. Jadi, agar terjadi belajar bermakana, konsep yang baru atau informasi baru harus dikaitkan dengan konsep – konsep yang telah ada dalam struktur kognitif siswa. Dalam menerpakan teori ini, ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan, yaitu;
- Pengaturan awal (advance organizer)
Pengaturan awal mengarahkan para siswa kemateri yang akan mereka pelajari, dan menolong mereka mengingat kembali informasi yang berhubungan yang dapat digunakan dalam membantu menanamkan pengetahuan baru. Suatu pengaturan awal dapat dianggap semacam pertolongan mental, dan disajikan sebelum materi baru.
- Diferensiasi Progresif
Selama belajar bermakna berlangsung, perlu terjadi pengembangan dan elaborasi konsep – konsep yang tersubsumsi. Menurut Ausubel, pengembangan konsep paling baik, bila unsur – unsur yang paling umum,dari suatu konsep diperkenalkan terlebih dahulu, kemudian diperkenalkan hal- hal yang lebih mendetail dan lebih khusus dari konsep tersebut. Dengan kata lain, model belajar menurut Ausubel pada umumnya berlangsung dari umum ke khusus. Penyusunan konsep seperti ini disebut diferensiasi progresif.
- Penyesuaian Integratif
Menurut Ausubel, bdalam mengajar bukan hanya urutan menurut diferensiasi progresif yang diperhatikan, melainkan juga harus diperhatikan bagaimana konsep – konsep baru dihubungkan dengan konsep – konsep superordinat. Kita harus memperhatikan dengan sungguh – sungguh bagaimana arti – arti baru dibandingkan dan dipertentangkan dengan arti –a rti sebelumnya yang lebih sempit.
Untuk mencapai penyesuaian integratif, materi pelajaran hendaknya disusun sedemikian rupa sehingga kita menggerakkan hierarki – hierarki konseptual selama informasi disajikan. Kita dapat mulai dengan konsep – konsep yang paling umum, tetapi perlu memperhatikan bagaimana terkaitnya konsep – konsep subordinat, dan kemudian bergerak kembali melalui contoh – contoh ke arti baru bagi konsep yang tingkatannya lebih tinggi.
3. Bagaimana menyusun peta konsep?
Peta konsep memegang peran penting dalam belajar bermakna. Karena itu hendaknya setiap siswa pandai dalam menyusun peta konsep untuk membuktikan bahwa telah berlangsung belajar bermakna pada siswa. Dalam mengajarkan pembuatan peta konsep ada beberapa langkah yang harus diikuti, yaitu;
a)Pilih suatu bacaan dari buku pelajaran.
b)Tentukan konsep konsep yang relevan.
4. Apa kegunaan Peta Konsep?
a) Menyelidiki apa yang telah diketahui siswa
Belajar bermakna membutuhkan usaha sungguh-sungguh untuk menghubungkan pengetahuan baru dengan konsep-konsep yang relevan yang telah mereka miliki. Tempat awal konseptual , guru harus mengetahui konsep-konsep yang telah dimiliki siswa pada awal pelajaran
b) Mempelajari cara belajar
Perlu disadari bahwa belaljar bermakna baru terjadi bila pembuatan peta konsep bukan untuk mengetahui keinginan guru tapi timbul dari keinginan siswa. Dimana siswa siswa mempunyai kesiapan dan minat untuk belajar bermakna.
c) Mengungkapkan konsepsi salah
Konsepsi salah timbul karena terdapat kaitan antara konsep-konsep yang mengakibatkan proposisi yang salah.
d) Alat evaluasi
Peta konsep sebagai alat evaluasi,pada tiga gagasan dalam teori kognitif Ausubel
- Struktur kognitif itu benar diatur secara herarki
- Konsep-konsep dalam struktur kognitif mengalami diverensiasi progresif.
- Penyesuaian integratif.
Label:
Pendidikan
Senin, 22 Agustus 2011
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN KOMIK PADA MATERIMOLLUSCA UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEPSISWA KELAS X SMA N 8 SEMARANG
Bagi temen - temen yang sedang dalam proses penyusunan Skripsi, terutama dalam Bidang Pendidikan Biologi, nech saya punya sedikit bahan yang mungkin dapat digunakan sebagai referensi dalam penyusunan skrip anda.
Bahan yang saya share kepada anda ini,diambil dari sebuah "Skripsi" yang menggunakan metode RnD (Research and Development) dalam penelitiannya. Biar g bertele - tele,,,nech langsung saja saya share kepada anda skripsinya. Semoga dapat membantu dan bermanfaat bagi anda semua.
an Media Pembelajaran Komik Pada Materi Mollusca Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Siswa Kelas x Sma n 8 ...
atau Langsung saja kunjungi disini
Bahan yang saya share kepada anda ini,diambil dari sebuah "Skripsi" yang menggunakan metode RnD (Research and Development) dalam penelitiannya. Biar g bertele - tele,,,nech langsung saja saya share kepada anda skripsinya. Semoga dapat membantu dan bermanfaat bagi anda semua.
an Media Pembelajaran Komik Pada Materi Mollusca Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Siswa Kelas x Sma n 8 ...
atau Langsung saja kunjungi disini
Label:
Biologi
Minggu, 14 Agustus 2011
Pengembangan Media Pembelajaran Komik Pada Materi Mollusca Untuk meningkatkan Pemahaman Konsep Siswa Kelas X SMA Negeri 8 Semarang.
ABSTRAK
Rahmanto.B. 2011, dengan judul Pengembangan Media Pembelajaran Komik Pada Materi Mollusca Untuk meningkatkan Pemahaman Konsep Siswa Kelas X SMA Negeri 8 Semarang. Pembimbing I oleh Dra.Eny Hartadiyati W.H, M. Si, Med dan pembimbing II oleh Endah Rita S.D, S. Si, M. Si.
Tujuan penilitian ini adalah untuk menghasilkan Komik yang layak digunakan sebagai media pembelajaran biologi bagi siswa kelas X di SMA N 8 Semarang dan menganalisis pengaruh pengembangan media pembelajaran komik pada materi Mollusca terhadap pemahaman konsep siswa kelas X di SMA N 8 Semarang.
Pada penelitian ini , peneliti menggunakan metode penelitian R & D (Read and Developmen) dengan langkah sebagai berikut; studi pendahuluan (studi pustaka, survei lapangan, menyusun draf komik), tahap pengembangan (penilaian pakar, revisi I, penilaian setelah revisi), pengujian dilakukan pada kelas x (uji coba komik, revisi II, uji pemakaian), hasil akhir (revisi III, produksi masal).
Hasil penelitian dari pakar menunjukan skor 91,67% dengan keterangan sangat layak untuk diterjunkan di SMA N 8 Semarang dan skor 100 % dari angket ketertarikan siswa. Diketahui di kelas XB t hitung – 23,594, menunjukan bahwa pemahaman konsep siswa meningkat setelah menggunakan media pembelajaran berbentuk komik. Sedangkan pembacaan singkat berdasarkan harga signifikasi (p), dimana nilai p = 0,00, dan nilai tersebut (p < 0,05), maka hipotesis diterima, artinya terdapat peningkatan pemahaman konsep siswa setelah menggunakan media pembelajaran berbentuk komik.
Jadi dapat disimpulkan bahwa komik pembelajaran yang dikembangkan peneliti telah sesuai dengan SK dan KD pada silabus yang digunakan di SMA N 8 Semarang dan dapat meningkatkan pemahaman konsep pada materi Mollusca.
Kata Kunci : Komik Pembelajaran, Mollusca, Pemahaman konsep
Rahmanto.B. 2011, dengan judul Pengembangan Media Pembelajaran Komik Pada Materi Mollusca Untuk meningkatkan Pemahaman Konsep Siswa Kelas X SMA Negeri 8 Semarang. Pembimbing I oleh Dra.Eny Hartadiyati W.H, M. Si, Med dan pembimbing II oleh Endah Rita S.D, S. Si, M. Si.
Tujuan penilitian ini adalah untuk menghasilkan Komik yang layak digunakan sebagai media pembelajaran biologi bagi siswa kelas X di SMA N 8 Semarang dan menganalisis pengaruh pengembangan media pembelajaran komik pada materi Mollusca terhadap pemahaman konsep siswa kelas X di SMA N 8 Semarang.
Pada penelitian ini , peneliti menggunakan metode penelitian R & D (Read and Developmen) dengan langkah sebagai berikut; studi pendahuluan (studi pustaka, survei lapangan, menyusun draf komik), tahap pengembangan (penilaian pakar, revisi I, penilaian setelah revisi), pengujian dilakukan pada kelas x (uji coba komik, revisi II, uji pemakaian), hasil akhir (revisi III, produksi masal).
Hasil penelitian dari pakar menunjukan skor 91,67% dengan keterangan sangat layak untuk diterjunkan di SMA N 8 Semarang dan skor 100 % dari angket ketertarikan siswa. Diketahui di kelas XB t hitung – 23,594, menunjukan bahwa pemahaman konsep siswa meningkat setelah menggunakan media pembelajaran berbentuk komik. Sedangkan pembacaan singkat berdasarkan harga signifikasi (p), dimana nilai p = 0,00, dan nilai tersebut (p < 0,05), maka hipotesis diterima, artinya terdapat peningkatan pemahaman konsep siswa setelah menggunakan media pembelajaran berbentuk komik.
Jadi dapat disimpulkan bahwa komik pembelajaran yang dikembangkan peneliti telah sesuai dengan SK dan KD pada silabus yang digunakan di SMA N 8 Semarang dan dapat meningkatkan pemahaman konsep pada materi Mollusca.
Kata Kunci : Komik Pembelajaran, Mollusca, Pemahaman konsep
Label:
Biologi
Minggu, 10 Juli 2011
Menampilkan File yang keHiden Virus
Dulu saya sangat bingung n stres berat ketika semua folder data dalam flasdisk saya nggak bisa dibuka, dan jadi shortcut semua. Padahal data - data itu adalah data penting, bahkan bisa disebut sebagai nyawa dalam pekerjaan. Heee,,,,Lebai banget y?!
Tapi bila anda mengalami hal yang sama dengan yang saya alami! Jangan keburu memformat Flasdisk anda. Karena itu dapat menghapus semua data anda. Walaupun anda mengopy seluruh data dahulu sebelum memformat, itu tidak dapat ngamanin data anda. Karena yang anda copy adalah hanya shortcutnya saja, data aslinya g keCopy. Tapi tenang, saya punya saran yang mungkin dpat membantu temen - temen sekalian dalam mengatasi hilangnya data karena keHiden Virus dengan menggunakan command prompt. Biar nggak terlalu nglantur kemana - mana, langsung saja yach...:
1. Tentukan Lokasi Flasdisk anda. Contoh, pada komputer saya flasdisk terletak pada drive "F"
2. Buka jendela command prompt dengan menekan lambang windows (pada keyboard)+ R lalu ketik cmd (huruf kecil) and enter / (atau) klik start lalu accecories dan command prompt.
3. Ketik Lokasi flasdisk anda lalu titik dua. Contoh ( F:) lalu Enter
4. Ketik attrib -r -h -s -a *.* /d /s lalu Enter
5. Tunggu Sampai nama virus yang menginfeksi keluar, dan Selesai dech.
Setelah semua langkah anda lakukan, cek flasdisk anda, pasti semua data anda muncul kembali. Dan anda dapat bekerja kembali dengan tenang.
"Perlu diingat, cara diatas hanya dapat menampilkan data yang hilang namun tidak dapat menghilangkan virus yang ada dalam flasdisk" Pastikan Backup ulang data anda pada lokasi yang aman.
.....Selamat Mencoba......
Tapi bila anda mengalami hal yang sama dengan yang saya alami! Jangan keburu memformat Flasdisk anda. Karena itu dapat menghapus semua data anda. Walaupun anda mengopy seluruh data dahulu sebelum memformat, itu tidak dapat ngamanin data anda. Karena yang anda copy adalah hanya shortcutnya saja, data aslinya g keCopy. Tapi tenang, saya punya saran yang mungkin dpat membantu temen - temen sekalian dalam mengatasi hilangnya data karena keHiden Virus dengan menggunakan command prompt. Biar nggak terlalu nglantur kemana - mana, langsung saja yach...:
1. Tentukan Lokasi Flasdisk anda. Contoh, pada komputer saya flasdisk terletak pada drive "F"
2. Buka jendela command prompt dengan menekan lambang windows (pada keyboard)+ R lalu ketik cmd (huruf kecil) and enter / (atau) klik start lalu accecories dan command prompt.
3. Ketik Lokasi flasdisk anda lalu titik dua. Contoh ( F:) lalu Enter
4. Ketik attrib -r -h -s -a *.* /d /s lalu Enter
5. Tunggu Sampai nama virus yang menginfeksi keluar, dan Selesai dech.
Setelah semua langkah anda lakukan, cek flasdisk anda, pasti semua data anda muncul kembali. Dan anda dapat bekerja kembali dengan tenang.
"Perlu diingat, cara diatas hanya dapat menampilkan data yang hilang namun tidak dapat menghilangkan virus yang ada dalam flasdisk" Pastikan Backup ulang data anda pada lokasi yang aman.
.....Selamat Mencoba......
Label:
Berkomputer
Kamis, 07 Juli 2011
Nesolagus netscheri
1.Klasifikasi Nesolagus netscheri
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Lagomorpha
Famili: Leporidae
Genus: Nesolagus
Spesies: N. netscheri
2.Karakteristik Nesolagus netscheri
Kelinci Sumatra (Nesolagus netscheri), juga dikenal dengan nama Kelinci Sumatra telinga pendek atau Kelinci belang Sumatra, adalah jenis kelinci liar yang hanya dapat ditemukan di hutan tropis di pegunungan Bukit Barisan di pulau Sumatra,Indonesia. Populasi kelinci Sumatra mengalami penurunan yang signifikan yang diakibatkan oleh perambahan hutan yang agresif di pulau Sumatra.
Berukuran sekitar 40 cm panjangnya, kelinci Sumatra memiliki garis-garis kecoklatan, dengan ekor berwarna merah, dan bawah perutnya berwarna putih. Biasanya tinggal di hutan dengan ketinggian 600-1400 meter dari permukaan laut. Kelinci ini merupakan hewan nokturnal, dengan menempati bekas atau liang hewan lain. Makanannya adalah pucuk daun muda dan tanaman yang berukuran pendek, namun kelinci hutan yang ditangkarkan memakan biji-bijian dan buah-buahan.
Perilaku binatang ini juga berbeda dengan jenisnya, karena tidak suka membuat lubang sebagai tempat tinggalnya. Pada siang hari kelinci ini suka bersembunyi di bawah semak- semak yang tumbuh rapat, di celah-celah batu atau lubang pohon. Pada malam hari akan keluar mencari makan berupa rumput-rumputan, daun-daunan dan akar-akar tanaman, serta buah yang jatuh. Perilaku dan perkembangbiakan binatang ini belum banyak diketahui, tetapi diperkirakan
tidak jauh berbeda dengan kelinci yang telah dijinakkan dan dipelihara. Biasanya kelinci ini ditemukan berkeliaran di hutan-hutan lembab di daerah pegunungan. Diperkirakan populasi binatang ini terus menurun, karena tekanan yang kuat terhadap habitat mereka. Mereka menyukai semak-semak yang tumbuh rapat, dan pembukaan belukar untuk pertanian atau perkebunan menjadi ancaman bagi binatang endemik ini.
3.Manfaat
Manfaat yang diambil dari kelinci adalah bulu dan daging yang sampai saat ini mulai laku keras di pasaran. Selain itu hasil ikutan masih dapat dimanfaatkan untuk pupuk, kerajinan dan pakan ternak. Tapi alangkah baiknya bila kelinci yang akan dimanfaatkan bagi kebutuhan manusia adalah kelinci yang bukan spesies langka. Karena dikhawatirkan akan terjadinya kepunahan terhadap spesies tersebut.
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Lagomorpha
Famili: Leporidae
Genus: Nesolagus
Spesies: N. netscheri
2.Karakteristik Nesolagus netscheri
Kelinci Sumatra (Nesolagus netscheri), juga dikenal dengan nama Kelinci Sumatra telinga pendek atau Kelinci belang Sumatra, adalah jenis kelinci liar yang hanya dapat ditemukan di hutan tropis di pegunungan Bukit Barisan di pulau Sumatra,Indonesia. Populasi kelinci Sumatra mengalami penurunan yang signifikan yang diakibatkan oleh perambahan hutan yang agresif di pulau Sumatra.
Berukuran sekitar 40 cm panjangnya, kelinci Sumatra memiliki garis-garis kecoklatan, dengan ekor berwarna merah, dan bawah perutnya berwarna putih. Biasanya tinggal di hutan dengan ketinggian 600-1400 meter dari permukaan laut. Kelinci ini merupakan hewan nokturnal, dengan menempati bekas atau liang hewan lain. Makanannya adalah pucuk daun muda dan tanaman yang berukuran pendek, namun kelinci hutan yang ditangkarkan memakan biji-bijian dan buah-buahan.
Perilaku binatang ini juga berbeda dengan jenisnya, karena tidak suka membuat lubang sebagai tempat tinggalnya. Pada siang hari kelinci ini suka bersembunyi di bawah semak- semak yang tumbuh rapat, di celah-celah batu atau lubang pohon. Pada malam hari akan keluar mencari makan berupa rumput-rumputan, daun-daunan dan akar-akar tanaman, serta buah yang jatuh. Perilaku dan perkembangbiakan binatang ini belum banyak diketahui, tetapi diperkirakan
tidak jauh berbeda dengan kelinci yang telah dijinakkan dan dipelihara. Biasanya kelinci ini ditemukan berkeliaran di hutan-hutan lembab di daerah pegunungan. Diperkirakan populasi binatang ini terus menurun, karena tekanan yang kuat terhadap habitat mereka. Mereka menyukai semak-semak yang tumbuh rapat, dan pembukaan belukar untuk pertanian atau perkebunan menjadi ancaman bagi binatang endemik ini.
3.Manfaat
Manfaat yang diambil dari kelinci adalah bulu dan daging yang sampai saat ini mulai laku keras di pasaran. Selain itu hasil ikutan masih dapat dimanfaatkan untuk pupuk, kerajinan dan pakan ternak. Tapi alangkah baiknya bila kelinci yang akan dimanfaatkan bagi kebutuhan manusia adalah kelinci yang bukan spesies langka. Karena dikhawatirkan akan terjadinya kepunahan terhadap spesies tersebut.
Label:
Biologi
Minggu, 03 Juli 2011
Struktur Sel Mikrobia
KARAKTERISTIK MORFOLOGI
MIKROBA PROKARIOT
• Umumnya berdimeter 0,5 – 1 _m
• Staphylococcus dan Streptococcus(0,75-1,25 _m)
• Bakteri typhoid dan disentri(0,5-1x2-3 _m)
[1 gram bakteri mengandung 1 triliun sel]
BENTUK
Sel bakteri memiliki 3
bentuk dasar :
– Bulat disebut coccus
– Batang disebut bacillus
– Spiral disebut spirilum
MODIFIKASI BENTUK
• Pasteuria, seperti buah pir
• Caryophanon, seperti cakram yang tersusun menyerupai koin
• Pleomorfik, (Arthrobacter) bentuknya berubah sejalan dengan umur kultur
SUSUNAN (FORMASI)
• Bakteri berbentuk spiral biasanya tidak tersusun dalam bentuk kelompok melainkan
terdapat dalam bentuk sel tunggal
• Sedangkan bekteri berbentuk lainnya dapat tumbuh membentuk pola penyusunan yang
khas yang dapat digunakan untuk identifikasi
FORMASI BAKTERI
BERBENTUK BULAT
- Diplococci, tersusun dua-dua, contoh : Neisseria
- Streptococci, tersusun seperti rantai, contoh : Streptococcus
- Tetracocci, tersusun empat-empat, contoh : Pediococcus
- Staphylococci, berbentuk seperti cluster anggur, contoh : Staphylococcus
- Sarcinae, berbentuk kubus, contoh : Sarcina
FORMASI BAKTERI
BERBENTUK BATANG
• Palisade, contoh : bakteri diphtheria
• Roset, contoh : Caulobacter
• Streptobacilli berbentuk rantai, contoh : beberapa genus Bacillus
• Trichome, seperti rantai tetapi area kontak sel-sel yang berurutan lebih besar,
contoh : Beggiatoa, Saprospira
STRUKTUR ULTRA
MIKROBA PROKARIOT
• Flagella dan Pili
Struktur sel bakteri yang terdapat di luar sel dan digunakan untuk : berenang /
alat gerak dan sebagai alat untuk menempel pada permukaan objek (Pergerakan 3000
panjang tubuh / m [2xCheetah])
FLAGELLA
Merupakan filamen tipis menyerupai rambut yang panjang berpangkal pada membran
sitoplasma dan menembus dinding sel
• Flagella terdiri dari 3 bagian
• Basal body / bagian dasar
• Struktur seperti kait yang pendek
• Filamen heliks yang panjang yang terdiri dari molekul-molekul protein flagelin
KEBERADAAN FLAGELLA
• Flagella umumnya beberapa kali ukuran sel (15–20 μm), tetapi diameternya sangat
pendek (12–30 nm)
• Tidak semua bakteri memiliki flagella. Bakteri berbentuk bulat jarang memiliki
flagella. Flagella umumnya dijumpai pada bakteri berbentuk batang dan spiral
TIPE FLAGELLA
• Monotrikus: flagella tunggal pada salah satu ujung bakteri (contoh Pseudomonas)
• Lofotrikus : kluster flagella pada salah satu ujung sel (contoh beberapa
seudomonad)
• Amfitrikus : flagella tunggal atau kluster pada kedua ujung sel (contoh Spirilla)
• Peritrikus : pada seluruh permukaan (contoh Escherichia)
PILI (FIMBRIAE)
• Struktur pili dibentuk oleh satu sub unit protein pilin
• Struktur pili ini lebih pendek dan kaku daripada flagella dan muncul dari “basal
body”.
• Morfologi pili sangat bervariasi dan jumlahnya berkisar antara satu sampai
beberapa ribu per sel.
• Pili dapat dibedakan menjadi 2 macam berdasarkan fungsinya.
– F pili (sex pili) : terlibat pada reproduksi seksual bakteri
– Pili biasa : berfungsi untuk adhesi seluler ke permukaan atau ke sel ineng. Pada
infeksi, pili membantu bakteri patogen menempel pada sel-sel yang terdapat pada
saluran pernafasan, pencernaan. Contoh : pili pada Neisseria gonorrhoeae
GLIKOKALIKS
• Beberapa bakteri dikelilingi oleh lapisan yang disebut glikokaliks.
• Pewarnaan khusus dapat dipergunakan untuk memperlihatkan lapisan ini.
• Glikokaliks ini tersusun oleh suatu polimer.
• Apabila glikokaliks terorganisasi menjadi struktur tertentu yang menempel secara
kuat pada dinding sel, maka disebut kapsula.
• Apabila glikokaliks tidak terorganisasi dan tidak menempel dengan kuat pada
dinding sel, maka disebut lapisan lendir.
• Lapisan lendir ini larut dalam air
KAPSULA
• Struktur kapsula umumnya terdiri dari senyawa polisakarida.
• Kapsula yang dibangun oleh 1 jenis gula disebut kapsula homopolisakarida,
contohnya dextran dari sukrosa oleh Streptococcus mutans.
• Bakteri menggunakan dekstran untuk melekat pada gigi dan menyebabkan kerusakan
gigi.
• Kapsul heteropolisakarida dibangun oleh lebih dari satu macam gula, misalnya
kapsula Streptococcus pneumoniae, tipe VI, terdiri dari galaktosa, glukosa
dan rhamnosa.
• Beberapa kapsul dibangun oleh polipeptida, misalnya kapsul mikroba anthrax,
Bacillus anthracis, yang dibangun oleh polimer asam amino asam glutamat.
FUNGSI GLIKOKALIKS
• Pelekatan bakteri pada permukaan
• Mencegah kekeringan karena kapsul memiliki banyak gugus polar sehingga dapat
mengikat air
• Reservoir makanan
• Mencegah penempelan dan lisis sel oleh bakteriofaga
• Mencegah bakteri patogen dari serangan sel darah putih pada tubuh mamalia sehingga
meningkatkan keberhasilan infeksi.
TUGAS BACA DAN RINGKASAN
BERKAITAN DENGAN GLIKOKALIKS
• Permasalah industri Clogging filter
• Permasalahan Corrosive pada sistim perpipaan air pendingin pabrik
• Permasalahan penyakit gigi
• Permasalahan resistensi bakteri terhadap antibiotik
• Dll
MIKROBA PROKARIOT
• Umumnya berdimeter 0,5 – 1 _m
• Staphylococcus dan Streptococcus(0,75-1,25 _m)
• Bakteri typhoid dan disentri(0,5-1x2-3 _m)
[1 gram bakteri mengandung 1 triliun sel]
BENTUK
Sel bakteri memiliki 3
bentuk dasar :
– Bulat disebut coccus
– Batang disebut bacillus
– Spiral disebut spirilum
MODIFIKASI BENTUK
• Pasteuria, seperti buah pir
• Caryophanon, seperti cakram yang tersusun menyerupai koin
• Pleomorfik, (Arthrobacter) bentuknya berubah sejalan dengan umur kultur
SUSUNAN (FORMASI)
• Bakteri berbentuk spiral biasanya tidak tersusun dalam bentuk kelompok melainkan
terdapat dalam bentuk sel tunggal
• Sedangkan bekteri berbentuk lainnya dapat tumbuh membentuk pola penyusunan yang
khas yang dapat digunakan untuk identifikasi
FORMASI BAKTERI
BERBENTUK BULAT
- Diplococci, tersusun dua-dua, contoh : Neisseria
- Streptococci, tersusun seperti rantai, contoh : Streptococcus
- Tetracocci, tersusun empat-empat, contoh : Pediococcus
- Staphylococci, berbentuk seperti cluster anggur, contoh : Staphylococcus
- Sarcinae, berbentuk kubus, contoh : Sarcina
FORMASI BAKTERI
BERBENTUK BATANG
• Palisade, contoh : bakteri diphtheria
• Roset, contoh : Caulobacter
• Streptobacilli berbentuk rantai, contoh : beberapa genus Bacillus
• Trichome, seperti rantai tetapi area kontak sel-sel yang berurutan lebih besar,
contoh : Beggiatoa, Saprospira
STRUKTUR ULTRA
MIKROBA PROKARIOT
• Flagella dan Pili
Struktur sel bakteri yang terdapat di luar sel dan digunakan untuk : berenang /
alat gerak dan sebagai alat untuk menempel pada permukaan objek (Pergerakan 3000
panjang tubuh / m [2xCheetah])
FLAGELLA
Merupakan filamen tipis menyerupai rambut yang panjang berpangkal pada membran
sitoplasma dan menembus dinding sel
• Flagella terdiri dari 3 bagian
• Basal body / bagian dasar
• Struktur seperti kait yang pendek
• Filamen heliks yang panjang yang terdiri dari molekul-molekul protein flagelin
KEBERADAAN FLAGELLA
• Flagella umumnya beberapa kali ukuran sel (15–20 μm), tetapi diameternya sangat
pendek (12–30 nm)
• Tidak semua bakteri memiliki flagella. Bakteri berbentuk bulat jarang memiliki
flagella. Flagella umumnya dijumpai pada bakteri berbentuk batang dan spiral
TIPE FLAGELLA
• Monotrikus: flagella tunggal pada salah satu ujung bakteri (contoh Pseudomonas)
• Lofotrikus : kluster flagella pada salah satu ujung sel (contoh beberapa
seudomonad)
• Amfitrikus : flagella tunggal atau kluster pada kedua ujung sel (contoh Spirilla)
• Peritrikus : pada seluruh permukaan (contoh Escherichia)
PILI (FIMBRIAE)
• Struktur pili dibentuk oleh satu sub unit protein pilin
• Struktur pili ini lebih pendek dan kaku daripada flagella dan muncul dari “basal
body”.
• Morfologi pili sangat bervariasi dan jumlahnya berkisar antara satu sampai
beberapa ribu per sel.
• Pili dapat dibedakan menjadi 2 macam berdasarkan fungsinya.
– F pili (sex pili) : terlibat pada reproduksi seksual bakteri
– Pili biasa : berfungsi untuk adhesi seluler ke permukaan atau ke sel ineng. Pada
infeksi, pili membantu bakteri patogen menempel pada sel-sel yang terdapat pada
saluran pernafasan, pencernaan. Contoh : pili pada Neisseria gonorrhoeae
GLIKOKALIKS
• Beberapa bakteri dikelilingi oleh lapisan yang disebut glikokaliks.
• Pewarnaan khusus dapat dipergunakan untuk memperlihatkan lapisan ini.
• Glikokaliks ini tersusun oleh suatu polimer.
• Apabila glikokaliks terorganisasi menjadi struktur tertentu yang menempel secara
kuat pada dinding sel, maka disebut kapsula.
• Apabila glikokaliks tidak terorganisasi dan tidak menempel dengan kuat pada
dinding sel, maka disebut lapisan lendir.
• Lapisan lendir ini larut dalam air
KAPSULA
• Struktur kapsula umumnya terdiri dari senyawa polisakarida.
• Kapsula yang dibangun oleh 1 jenis gula disebut kapsula homopolisakarida,
contohnya dextran dari sukrosa oleh Streptococcus mutans.
• Bakteri menggunakan dekstran untuk melekat pada gigi dan menyebabkan kerusakan
gigi.
• Kapsul heteropolisakarida dibangun oleh lebih dari satu macam gula, misalnya
kapsula Streptococcus pneumoniae, tipe VI, terdiri dari galaktosa, glukosa
dan rhamnosa.
• Beberapa kapsul dibangun oleh polipeptida, misalnya kapsul mikroba anthrax,
Bacillus anthracis, yang dibangun oleh polimer asam amino asam glutamat.
FUNGSI GLIKOKALIKS
• Pelekatan bakteri pada permukaan
• Mencegah kekeringan karena kapsul memiliki banyak gugus polar sehingga dapat
mengikat air
• Reservoir makanan
• Mencegah penempelan dan lisis sel oleh bakteriofaga
• Mencegah bakteri patogen dari serangan sel darah putih pada tubuh mamalia sehingga
meningkatkan keberhasilan infeksi.
TUGAS BACA DAN RINGKASAN
BERKAITAN DENGAN GLIKOKALIKS
• Permasalah industri Clogging filter
• Permasalahan Corrosive pada sistim perpipaan air pendingin pabrik
• Permasalahan penyakit gigi
• Permasalahan resistensi bakteri terhadap antibiotik
• Dll
Label:
Biologi
JARINGAN TUMBUHAN
MACAM-MACAM JARINGAN TUMBUHAN:
- .JARINGAN MERISTEM
- JARINGAN PERMANEN ATAU JARINGAN DEWASA
1. Jaringan Meristem
Jaringan meristem merupakan jaringan yang terdiri atas sekelompok sel yang aktif membelah. Setiap satu sel meristematik membelah dan menghasilkan sedikitnya satu anakan sel. Setiap anakan sel dapat meneruskan pembelahan berikutnya.
Jaringan meristem berdasarkan letaknya dibedakan atas :
- Meristem Apikal
- Meristem Lateral
- Meristem Interkalar
Berdasarkan asalnya meristem dibedakan atas :
1. Meristem Primer
2. Meritem Sekunder
Label:
Biologi
Jumat, 14 Januari 2011
Faktor Ekologis Cacing Tanah
LATAR BELAKANG
Cacing merupakan binatang yang mudah ditemukan di sekitar kita. Namun yang perlu kita ketahui bahwa cacing itu sangat banyak macamnya. Cacing atau vermes adalah golongan binatang yang tubuhnya lunak, tidak bercangkang,tubuhnya simetri bilateral atau bilateral simetri. Hewan cacing ini ada yang hidup di alam bebas, ada pula yang parasit pada organisme lain.
Secara alamiah, morfologi dan anatomi cacing tanah berevolusi menyesuaikan diri terhadap lingkunganya. Kemampuan cacing tanah untuk beradaptasi dengan linkungannya merupakan salah satu faktor penyelamat yang melestarikan suatu spesies cacing tanah dari seleksi alamiah. Kerapatan populasi spesies cacing tanah ditentukan oleh dua faktor seleksi yaitu seleksi r dan seleksi k. Sdeleksi r terjadi akibat suatu populasi spesies yang tadinya hidup pada lingkungan yang tidak padat pindah ke lingkungan yang padat. Sedangkan seleksi k terjadi dalam lingkungan padat.
Di daerah yang iklimnya dapat berubah dratis, spesies yang hidup di musim dingin dan berkolonisasi di musim semi jika makanan tersedia melimpah, maka seleksi r akan berfungsi positif terhadap peningkatan produkyivitasnya, sedangkan di daerah beriklim relatif seragam, seleksi K memungkinkan terjadinya efisiensi perubahan makanan dalam menerusakan keturunanya. Spesies yang baru berkolonisasi akan menjadi subyek baru bagi seleksi r, sedangkan apabila sudah mantap dan aman akan berubah menjadi subyek bagi seleksi K.
FAKTOR EKOLOGIS YANG MEMPENGARUHI CACING TANAH
Faktor – faktor ekologis yang mempengaruhi kehidupan cacing tanah meliputi :
a. Kemasaman (pH) Tanah
Kemasaman tanah sangat mempengaruhi populasi dan aktivitas cacing sehingga menjadi faktor pembatas penyebaran dan spesiesnya. Umumnya cacing tanah tumbah baik pada ph sekitar 7,0 namun L. terestris, A.caliginose di jumpai pada ph 5,2 – 5,4; beberapa tropis genus megascolex hidup pada tanah masam berph 4,5 – 4,7 dan Bimastos lonnbergi pada ph 4,7 – 5,1, bahkan dendrobaena octaedra tahan pada ph di bawah 4,3 sehingga dianggap spesies yang tahan masam.
Berdasarkan toloransinya terhadap kemasaman tanah, satchell cit.hanafiah (2003) memngelompokan cacing tanah menjadi 3:
• Tolerans : (ex: B.eiseni, D.octaedra, L. rubida, Hupeiensis africanus).
• Peka : (ex :A. Caliginosa, A. nocturna, A. Rosea ).
• Medium : ( ex: L. rubellus, L. teresstris, O. cyaneum).
Indikator tolenrasi cacing tanah terlihat dari mantapnya jumlah populasi per satuan volume tanah, aktivitasnya, masa diapuse, reaktivitas dan ketahanannya terhadap perubahan ph. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa ph kotoran tanah lebih netral ketimbang tanah habitatnya, hal ini terkait dengan adanya netralisasi asam oleh:
• sekresi kelenjar kalsifera yang dikeluarkannya pada saat melintasi tanah
• sekresi dari usus dan ammonium.
b. Kelengasan Tanah
Sekitar 75% - 90% bonot cacing tanah hidup adalah air. Secara alamiah, cacing akan bergerak ke tempat yang lebih basah atua diam jika terjadi kekirangan tanah. Meskipun dapat bertahan hidup pada kondisi kering, kesuburan cacing tanah sangat terpengaruh. Hal ini terlihat apabila cacing tanah mengalami kekeringan dalam waktu lama secara berkelanjutan, maka pada kondisi normal, untuk pemulihannya ke populasi asal perlu waktu dua tahun. Beberapa spesies lebih mampu beradaptasi terhadap kondisi kering, L. terrestris ternyata hidup sama baiknya pada plot tanpa dan dengan irigasi, ketimbang A. chlorotioca, A. caliginosa, dan A. rosea yang tidak bertahan lama pada plot tanpa irigasi.
c. Temperatur
Aktivitas , pertumbuhan, metabolisme, respirasi, dan reproduksi cacing tanah dipengaruhi perbedaan temperatur sebagai berikut:
- Jumlah kokon produksi a caliginosa dan beberapa spesies lumbridae berlipat 4 kali ada temperatur 6-16 o C.
- Penetasan kokon a. chlorotica hanya berlangsung 36 hari pada temperatur 20 o C, lebih cepat ketimbang 49 hari pada 15 o C dan 112 hari pada 10 o C.
- Periode dewasa lebih cepat, yaitu 13 minggu pada 18 o C ketimbang28-42 minggu pada 15 o C; E foetida perlu 6,5 pada 28 o C ketimbang 9,5 minggu pada 18 o C.
- Temperatur permukaan tanah optimum untuk aktivitas cacing tanah di malam hari adalah 10,5 o C, berselisih minimal 2 o C di atas rumput dan ada hujan 4 hari sebelumnya.
- imit atas temperatur kematian cacing tanah telah terpapar 48 jam adalah 28 o C untuk L. terrestritis,26 o C untuk A. caliginosa, 25 o C untuk E. Foetida dan Pheretima hupiensis serta 29,7 ͦ C untuk E. rosea dan 34-38,5 o C untuk H. Africanus.
- Rerata temperatur optimum untuk cacing tanah adalah 12 o C untuk E. rosea dan A. caligonosa, 15 o C untuk A. cholortica dan O. cyaneum, 15-18 o C untuk L. rubellus, 18-20 o C untuk D. rubida, 25 o C untuk E. foiteda dan 15-23 o C untuk P. Hupeiensis.
- Temperetur cacing tanah berpengaruh terhadap distribusi cacing dalam profil tanah.
d. Aerasi dan CO2
Tekanan C02 mempengaruhi distribusi cacing tanah meskipun distribusi spesies seperti E. eiseni dan D. octaedra pada beberapa tempat lebih dibatasi oleh minimalnya tekanan oksigen yang terjadi pada musim- musim tertentu. Limit kiosentrasi CO2 dalam tanah biasanya antara 0,01 – 11,5%, sedangkan cacing tanah hanya dapat hidup pada kosentrasi yang jauh lebih tinggi bahkan hingga 50%.
e. Bahan organik
Distribusi bahan organik dalam tanah berpengaruh terhadap cacimg tanah, karena terkait dengan sumber nutrisinya. Populasi cacing tanah segara terpacu apabila tanah diberi kotoran hewan.
f. Jenis tanah
Populasi cacing tanah paling banyak dijumpai pada lempung ringan, pasir ringan dan lempung sedang ( 63 – 56 ekor ), serta paling sedikit pada tanah gambut – bergambut ( 14 – 6 ekor ). Kemudian dari segi keragaman spesies, paling banyak terdapat pada tanah bertekstur pasir ringan ( 10 spesies ), kemudian pada tanah lempung liat, liat, dan aluvial ( 8 – 9 spesies paling sedikit pada tanah gambut – bergambut (5 – 6 spesies).
g. Suplai pakan
Jenis dan jumlah pakan yang tersedia akan mempengraruhi populasi, jenis spesies, kecepatan tumbuh, dan kesuburan cacing tanah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Evans dan Guild disimpulkan bahwa cacing tanah yang disuplai bahan organik berkadar N tinggi terlihat lebih cepat tumbuhdan lebih banyak produksi kokonnya.
Berdasarkan hasil – hasil penelitiaan, dalam menyuplai nutrisi atau pakan berupa sisa-sisa tanaman ( seresah ) bagi cacing tanah perlu diperhatikan palabilitas terhadap dedauan tersebut :
- Ada yang lebih menyukai serasah segar yang berkalsium tinggi, seperti L. rubellus dan ada yang lebih menyukai serasah mulai melapuk, seperti A. caliginosa yang juga memakan miselia jamur.
- Umumnya lebih menyukai serasah berkarbohidrat-larut, gula dan berprotein tinngi; L. terrestris lebih menyukai serasah tanaman Alnus yang glutinosa berkadar N >1,4% ketimbang serasah berkadar N<1%.
- Umumnya paling tidak menyukai serasah conifera seperti daun pinus jarum, cemara, larch, spruce, oak, dan beech, karena: a). bertanin pekat, atau b). berpolifenol larut air atau berfenolpolihidrik tinggi, atau c).beralkaloid pahit atau senyawa aromatik noxions.
- Urutan palabitas ( kelebih sukaan ) terhadap serasah adalaah daun selada, kale, biet, elm, jagung, lime, birch, oak, dan beech.
- Inokulasi sel-sel bakteri ke daun meningkatkan konsumsi sersasah, sedangkan penyemprotan pestisida kimiawi sebaliknya.
DISTRIBUSI CACING TANAH
Cacing tanah terdistribusi di dalam tanah secara tidak merata tergantung pada (1) sifat fisiko-kimiawi yang meliputi kelengasan, ph, garam-garam organik,dan tekstur tanah; (2) ketersedian pakan, yaitu sampah dedaunan, pupuk kandang, rerumputan, dan bahan organik segar; serta (3) potensial reproduktif dan kemampuan jelejah cacing itu sendiri.
Secara umum penyebaran cacing tanah terbantu dengan penyebaran telur-telurnya oleh alat-alat mekanisasi pertaniaan, kuku binatang ternak dan aliran air.
Asosiasi yang terbentuk antarspesies cacing tanah umumnya merupakan ciri habitat tempat hidupnya. Berikut ini contoh-contohnya.
- Asosiasi L. terrestris, A. longa, A. caliginosa, dan Octalasia cyaneum merupakan spesies penciri yang menghuni padang rumput di England meskipun ada spesies lain yang menghuni padang rumput tersebut.
- Tanah gambut jarang dihuni oleh lebih dari empat sepsies, yang umumnya adalah spesies berukuran kecil.
- Tanah rumput Calluna dan tanah Mor conifera (keduanya tipe tanah organik) seringkali hanya dihuni olehndua spesies cacing yakni D. Octaedra dan B. eiseni.
- Pada tanah hutan (woodland) yang sudah rusak umumnya A. rosea, A. longa, A. chlorotica, O. cyaneum, L. castaneus, L. terrestris, dan L. rubellus terdapat bersama-sama.
- Rubida secara tetap berasosiasi dengan B. zetike pada tanah hutan di Michigan, dan banyak lagi asosiasi yang telah diketahui.
- Di Scotland telah ditemukan 7 – 10 spesies pada suatu habitat, namun A. caliginosa da A. longa merupakan asosiasi yang dominan, yaitu sekitar 50% dari total spesies tersebut.
- Padang rumput permanen dan padang rumput tua banyak dihuni A. nocturna dan sedikit A. caliginosa, tatapi setelah dilakukan pengolahan tanah dan penaburan benih rumput, 1 – 2 tahun A. rosea meningkat.
- Di lahan pertanian A. chlorotica merupakan spesies yang dominan, tetapi menurun jumlahnya jika dilakukan penaburan rerumputan.
ASOSIASI CACING TANAH
Sebagai makrofauna, cacing merupakan habitat atau inang bagi mikrobia tertentu sehingga juga berfungsi sebagai vektor (penyebar) bagi mikrobia ini pada saat cacing bermigrasi. Pada usus cacing tanah terdapat suatu situs khusus yang berfungsi sebagai akibat mikroflora, sehingga spesiesnya penghuninya identik atau sedikit lebih bervariasi ketimbang spesies pada tanah sekitarnya.
Tidak semua cacing tanah berasosiasi denga mikrobia, misalnya populasi mikrobia pada usus O. lacteum yang hidup pada kedalaman 10 – 40 cm ternyata identik dengan populasi pada tanah sekitarnya, bahkan populasi bakteri berspora, aktinomisetes, dan bakteri berflour lebih sedikit ketimbang pada usus L. rubellus yang mengandung 10 kali lipat bakteri dibandiing tanah sekitarnya.
Hasil penelitiaan menunjukkan bahwa rasio kelompok mikrobia dalam kotoran cacing berbeda dengan yang ada dalam tanah.bakteri berspora dan aktinomisetes merupakan kelompok terbanyak dalam kotoran cacing, kemudiaan Bacillus idosus dan B. cereus, namun B. aglutinatus lebih sedikit ketimbang dalam tanah. Spora ragi dan fungi segera tumbuh apabila berada dalam kotoran cacing dan setelah 14 hari terlihat banyak terbentik hipa.
Dalam asosiasi dengan mikroba, cacing tanah dapat berfungsi dalam menstimulisasi perkembangannya.proses dekomposisi bahan organik dipercepat apabila senyawa N sederhana ditambahkan, terutama jika bahan organik ini miskin N.
DAFTAR PUSTAKA
Hanafiah, Kemas Ali, dkk.2007. BIOLOGI TANAH.PT RAJAGRAFINDO PERSADA : jakarta
Label:
Biologi
Langganan:
Komentar (Atom)

