Jumat, 14 Januari 2011

Faktor Ekologis Cacing Tanah

LATAR BELAKANG
     Cacing merupakan binatang yang mudah ditemukan di sekitar kita. Namun yang perlu kita ketahui bahwa  cacing itu sangat banyak macamnya. Cacing atau vermes adalah golongan binatang yang tubuhnya lunak, tidak bercangkang,tubuhnya simetri bilateral atau bilateral simetri. Hewan cacing ini ada yang hidup di alam bebas, ada pula yang parasit pada organisme lain.
Secara alamiah, morfologi dan anatomi cacing tanah berevolusi menyesuaikan diri terhadap lingkunganya. Kemampuan cacing tanah untuk beradaptasi dengan linkungannya merupakan salah satu faktor penyelamat yang melestarikan suatu spesies cacing tanah dari seleksi alamiah. Kerapatan populasi spesies cacing tanah ditentukan oleh dua faktor seleksi yaitu seleksi r dan seleksi k. Sdeleksi r terjadi akibat suatu populasi spesies yang tadinya hidup pada lingkungan yang tidak padat pindah ke lingkungan yang padat. Sedangkan seleksi k terjadi dalam lingkungan padat.
Di daerah yang iklimnya dapat berubah dratis, spesies yang hidup di musim dingin dan berkolonisasi di musim semi jika makanan tersedia melimpah, maka seleksi r akan berfungsi positif terhadap peningkatan produkyivitasnya, sedangkan di daerah beriklim relatif seragam, seleksi K memungkinkan terjadinya efisiensi perubahan makanan dalam menerusakan keturunanya. Spesies yang baru berkolonisasi akan menjadi subyek baru bagi seleksi r, sedangkan apabila sudah mantap dan aman akan berubah menjadi subyek bagi seleksi K.

FAKTOR EKOLOGIS YANG MEMPENGARUHI CACING TANAH
Faktor – faktor ekologis yang mempengaruhi kehidupan cacing tanah meliputi :
a. Kemasaman (pH) Tanah
Kemasaman tanah sangat mempengaruhi populasi dan aktivitas cacing sehingga menjadi faktor pembatas penyebaran dan spesiesnya. Umumnya cacing tanah tumbah baik pada ph sekitar 7,0 namun L. terestris, A.caliginose di jumpai pada ph 5,2 – 5,4; beberapa tropis genus megascolex hidup pada tanah masam berph 4,5 – 4,7 dan Bimastos lonnbergi pada ph 4,7 – 5,1, bahkan dendrobaena octaedra tahan pada ph di bawah 4,3 sehingga dianggap spesies yang tahan masam.
Berdasarkan toloransinya terhadap kemasaman tanah, satchell cit.hanafiah (2003) memngelompokan cacing tanah menjadi 3:
• Tolerans : (ex: B.eiseni, D.octaedra, L. rubida, Hupeiensis africanus).
• Peka : (ex :A. Caliginosa, A. nocturna, A. Rosea ).
• Medium : ( ex: L. rubellus, L. teresstris, O. cyaneum).
Indikator tolenrasi cacing tanah terlihat dari mantapnya jumlah populasi per satuan volume tanah, aktivitasnya, masa diapuse, reaktivitas dan ketahanannya terhadap perubahan ph. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa ph kotoran tanah lebih netral ketimbang tanah habitatnya, hal ini terkait dengan adanya netralisasi asam oleh:
• sekresi kelenjar kalsifera yang dikeluarkannya pada saat melintasi tanah
• sekresi dari usus dan ammonium.
b. Kelengasan Tanah
Sekitar 75% - 90% bonot cacing tanah hidup adalah air. Secara alamiah, cacing akan bergerak ke tempat yang lebih basah atua diam jika terjadi kekirangan tanah. Meskipun dapat bertahan hidup pada kondisi kering, kesuburan cacing tanah sangat terpengaruh. Hal ini terlihat apabila cacing tanah mengalami kekeringan dalam waktu lama secara berkelanjutan, maka pada kondisi normal, untuk pemulihannya ke populasi asal perlu waktu dua tahun. Beberapa spesies lebih mampu beradaptasi terhadap kondisi kering, L. terrestris ternyata hidup sama baiknya pada plot tanpa dan dengan irigasi, ketimbang A. chlorotioca, A. caliginosa, dan A. rosea yang tidak bertahan lama pada plot tanpa irigasi.
c. Temperatur
Aktivitas , pertumbuhan, metabolisme, respirasi, dan reproduksi cacing tanah dipengaruhi perbedaan temperatur sebagai berikut:
  1. Jumlah kokon produksi a caliginosa dan beberapa spesies lumbridae berlipat 4 kali ada temperatur 6-16 o C.
  2. Penetasan kokon a. chlorotica hanya berlangsung 36 hari pada temperatur 20 o C, lebih cepat ketimbang 49 hari pada 15 o C dan 112 hari pada 10 o C.
  3. Periode dewasa lebih cepat, yaitu 13 minggu pada 18 o C ketimbang28-42 minggu pada 15 o C; E foetida perlu 6,5 pada 28 o C ketimbang 9,5 minggu pada 18 o C.
  4. Temperatur permukaan tanah optimum untuk aktivitas cacing tanah di malam hari adalah 10,5 o C, berselisih minimal 2 o C di atas rumput dan ada hujan 4 hari sebelumnya.
  5. imit atas temperatur kematian cacing tanah telah terpapar 48 jam adalah 28 o C untuk L. terrestritis,26 o C untuk A. caliginosa, 25 o C untuk E. Foetida dan Pheretima hupiensis serta 29,7 ͦ C untuk E. rosea dan 34-38,5 o C untuk H. Africanus.
  6. Rerata temperatur optimum untuk cacing tanah adalah 12 o C untuk E. rosea dan A. caligonosa, 15 o C untuk A. cholortica dan O. cyaneum, 15-18 o C untuk L. rubellus, 18-20 o C untuk D. rubida, 25 o C untuk E. foiteda dan 15-23 o C untuk P. Hupeiensis.
  7. Temperetur cacing tanah berpengaruh terhadap distribusi cacing dalam profil tanah.
d. Aerasi dan CO2
Tekanan C02 mempengaruhi distribusi cacing tanah meskipun distribusi spesies seperti E. eiseni dan D. octaedra pada beberapa tempat lebih dibatasi oleh minimalnya tekanan oksigen yang terjadi pada musim- musim tertentu. Limit kiosentrasi CO2 dalam tanah biasanya antara 0,01 – 11,5%, sedangkan cacing tanah hanya dapat hidup pada kosentrasi yang jauh lebih tinggi bahkan hingga 50%.
e. Bahan organik
Distribusi bahan organik dalam tanah berpengaruh terhadap cacimg tanah, karena terkait dengan sumber nutrisinya. Populasi cacing tanah segara terpacu apabila tanah diberi kotoran hewan.
f. Jenis tanah
Populasi cacing tanah paling banyak dijumpai pada lempung ringan, pasir ringan dan lempung sedang ( 63 – 56 ekor ), serta paling sedikit pada tanah gambut – bergambut ( 14 – 6 ekor ). Kemudian dari segi keragaman spesies, paling banyak terdapat pada tanah bertekstur pasir ringan ( 10 spesies ), kemudian pada tanah lempung liat, liat, dan aluvial ( 8 – 9 spesies paling sedikit pada tanah gambut – bergambut (5 – 6 spesies).
g. Suplai pakan
Jenis dan jumlah pakan yang tersedia akan mempengraruhi populasi, jenis spesies, kecepatan tumbuh, dan kesuburan cacing tanah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Evans dan Guild disimpulkan bahwa cacing tanah yang disuplai bahan organik berkadar N tinggi terlihat lebih cepat tumbuhdan lebih banyak produksi kokonnya.
Berdasarkan hasil – hasil penelitiaan, dalam menyuplai nutrisi atau pakan berupa sisa-sisa tanaman ( seresah ) bagi cacing tanah perlu diperhatikan palabilitas terhadap dedauan tersebut :
  1. Ada yang lebih menyukai serasah segar yang berkalsium tinggi, seperti L. rubellus dan ada yang lebih menyukai serasah mulai melapuk, seperti A. caliginosa yang juga memakan miselia jamur.
  2. Umumnya lebih menyukai serasah berkarbohidrat-larut, gula dan berprotein tinngi; L. terrestris lebih menyukai serasah tanaman Alnus yang glutinosa berkadar N >1,4% ketimbang serasah berkadar N<1%.
  3. Umumnya paling tidak menyukai serasah conifera seperti daun pinus jarum, cemara, larch, spruce, oak, dan beech, karena: a). bertanin pekat, atau b). berpolifenol larut air atau berfenolpolihidrik tinggi, atau c).beralkaloid pahit atau senyawa aromatik noxions.
  4. Urutan palabitas ( kelebih sukaan ) terhadap serasah adalaah daun selada, kale, biet, elm, jagung, lime, birch, oak, dan beech.
  5. Inokulasi sel-sel bakteri ke daun meningkatkan konsumsi sersasah, sedangkan penyemprotan pestisida kimiawi sebaliknya.
Dalam sistem pencernaannya, telah dijumpai adanya enzim selulase yang berfungsi dalam perombakan selulosa, dan enzim chitinase yang merombak ikatan chitin dari bahan yang dikonsumsinya.

DISTRIBUSI CACING TANAH
Cacing tanah terdistribusi di dalam tanah secara tidak merata tergantung pada (1) sifat fisiko-kimiawi yang meliputi kelengasan, ph, garam-garam organik,dan tekstur tanah; (2) ketersedian pakan, yaitu sampah dedaunan, pupuk kandang, rerumputan, dan bahan organik segar; serta (3) potensial reproduktif dan kemampuan jelejah cacing itu sendiri.
Secara umum penyebaran cacing tanah terbantu dengan penyebaran telur-telurnya oleh alat-alat mekanisasi pertaniaan, kuku binatang ternak dan aliran air.

ASOSIASI ANTAR SPESIES
Asosiasi yang terbentuk antarspesies cacing tanah umumnya merupakan ciri habitat tempat hidupnya. Berikut ini contoh-contohnya.
  1. Asosiasi L. terrestris, A. longa, A. caliginosa, dan Octalasia cyaneum merupakan spesies penciri yang menghuni padang rumput di England meskipun ada spesies lain yang menghuni padang rumput tersebut.
  2. Tanah gambut jarang dihuni oleh lebih dari empat sepsies, yang umumnya adalah spesies berukuran kecil.
  3. Tanah rumput Calluna dan tanah Mor conifera (keduanya tipe tanah organik) seringkali hanya dihuni olehndua spesies cacing yakni D. Octaedra dan B. eiseni.
  4. Pada tanah hutan (woodland) yang sudah rusak umumnya A. rosea, A. longa, A. chlorotica, O. cyaneum, L. castaneus, L. terrestris, dan L. rubellus terdapat bersama-sama.
  5. Rubida secara tetap berasosiasi dengan B. zetike pada tanah hutan di Michigan, dan banyak lagi asosiasi yang telah diketahui.
  6. Di Scotland telah ditemukan 7 – 10 spesies pada suatu habitat, namun A. caliginosa da A. longa merupakan asosiasi yang dominan, yaitu sekitar 50% dari total spesies tersebut.
  7. Padang rumput permanen dan padang rumput tua banyak dihuni A. nocturna dan sedikit A. caliginosa, tatapi setelah dilakukan pengolahan tanah dan penaburan benih rumput, 1 – 2 tahun A. rosea meningkat.
  8. Di lahan pertanian A. chlorotica merupakan spesies yang dominan, tetapi menurun jumlahnya jika dilakukan penaburan rerumputan.
ASOSIASI CACING TANAH
Sebagai makrofauna, cacing merupakan habitat atau inang bagi mikrobia tertentu sehingga juga berfungsi sebagai vektor (penyebar) bagi mikrobia ini pada saat cacing bermigrasi. Pada usus cacing tanah terdapat suatu situs khusus yang berfungsi sebagai akibat mikroflora, sehingga spesiesnya penghuninya identik atau sedikit lebih bervariasi ketimbang spesies pada tanah sekitarnya.
Tidak semua cacing tanah berasosiasi denga mikrobia, misalnya populasi mikrobia pada usus O. lacteum yang hidup pada kedalaman 10 – 40 cm ternyata identik dengan populasi pada tanah sekitarnya, bahkan populasi bakteri berspora, aktinomisetes, dan bakteri berflour lebih sedikit ketimbang pada usus L. rubellus yang mengandung 10 kali lipat bakteri dibandiing tanah sekitarnya.

Hasil penelitiaan menunjukkan bahwa rasio kelompok mikrobia dalam kotoran cacing berbeda dengan yang ada dalam tanah.bakteri berspora dan aktinomisetes merupakan kelompok terbanyak dalam kotoran cacing, kemudiaan Bacillus idosus dan B. cereus, namun B. aglutinatus lebih sedikit ketimbang dalam tanah. Spora ragi dan fungi segera tumbuh apabila berada dalam kotoran cacing dan setelah 14 hari terlihat banyak terbentik hipa.

Dalam asosiasi dengan mikroba, cacing tanah dapat berfungsi dalam menstimulisasi perkembangannya.proses dekomposisi bahan organik dipercepat apabila senyawa N sederhana ditambahkan, terutama jika bahan organik ini miskin N.

DAFTAR PUSTAKA

Hanafiah, Kemas Ali, dkk.2007. BIOLOGI TANAH.PT RAJAGRAFINDO PERSADA : jakarta